liputansenja.com

Liputan Informasi Menarik

Microsoft Ungkap China Mata-matai Mitra Strategis, Termasuk RI
Gaya Hidup

Microsoft Ungkap China Mata-matai Mitra Strategis, Termasuk RI

Tak cuma AS, operasi mata-mata siber () yang dimaksud diduga dijalani China menargetkan beberapa jumlah keseluruhan negara Asia Pasifik juga bahkan mitra dagang strategisnya seperti .

Dalam Microsoft Digital Defense Report 2023, kampanye yang digunakan disponsori negara China “mencerminkan upaya ganda Partai Komunis China (PKC) dalam memperoleh pengaruh global lalu pengumpulan intelijen.”

“China juga menargetkan mitra strategisnya,” tulis Microsoft.

Saat memperluas pengaruh globalnya melalui Inisiatif Sabuk kemudian Jalan (Belt and Road Inisiative/BRI), pelaku ancaman siber China secara bersamaan melakukan operasi siber terhadap entitas swasta kemudian umum secara global.

“Mereka sering menargetkan negara-negara yang dimaksud sejalan dengan strategi BRI dari Partai Komunis Chinatermasuk Malaysia, Indonesia, lalu juga Kazakhstan,” ungkap Microsoft.

“Dan kementerian luar negeri dalam seluruh Eropa, Amerika Latin, juga Asia untuk melakukan spionase sektor kegiatan ekonomi atau pengumpulan intelijen,” lanjut laporan itu.

Microsoft mengungkap pengumpulan informasi intelijen ini terutama terkait dengan negara-negara yang digunakan dimaksud berurusan di tempat tempat Laut China Selatan.

Perusahaan milik miliarder Bill Gates ini mendeteksi insiden dunia maya di dalam area Laut China Selatan yang itu dikaitkan dengan kelompok peretasan yang dimaksud disponsori negara China pada periode Juli 2022 – Juni 2023.

Menurut data Microsoft Threat Analysis Center investigations, berikut negara yang tersebut mana jadi target operasi mata-mata siber berdasarkan hitungan insiden di tempat tempat atas:

– Taiwan (70+)- Malaysia (30+)- Filipina (20+)- Indonesia (20+)- Brunei (<20)
– Singapura (<20)
– Vietnam (<20)

“Meskipun China terus fokus pada Taiwan, China juga tertarik dengan rencana, niat, serta kemampuan negara-negara tetangganya,” kata Microsoft.

Kelompok hacker

Microsoft mengungkap kampanye penargetan yang mana dimaksud canggih terhadap AS, negara-negara yang dimaksud yang berbatasan dengan Laut China Selatan, serta juga mitra strategis itu bertujuan untuk pengumpulan intelijen.

Perusahaan mengungkap lima kelompok yang diduga disponsori China, yakni Volt Typhoon, Raspberry Typhoon, Flax Typhoon, Circle Typhoon, kemudian Mulberry Typhoon.

Kelompok ancaman utama di dalam dalam wilayah Laut China Selatan sendiri adalah Raspberry Typhoon kemudian Flax Typhoon.

Raspberry Typhoon menargetkan kementerian pemerintah Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), entitas militer, serta entitas perusahaan yang digunakan terkait dengan infrastruktur penting, khususnya telekomunikasi.

Kelompok ini melakukan pengumpulan intelijen menggunakan kampanye spear-phishing yang mana canggih untuk menyelundupkan malware (program jahat) mereka.

“Sejak Januari, kelompok ini terus-menerus menargetkan entitas setingkat kementerian yang dimaksud digunakan berkaitan dengan perdagangan, intelijen, kemudian juga keuangan,” kata Microsoft.

“Flax Typhoon menargetkan infrastruktur penting Taiwan termasuk IT serta entitas terkait medis, sektor pertahanan, termasuk kontraktor yang digunakan digunakan bekerja dengan pemerintah AS, serta entitas media.”

Flax Typhoon sering mengumpulkan informasi tentang targetnya, menemukan kerentanan, lalu kemudian memanfaatkan solusi VPN khusus untuk mendapatkan akses juga juga mempertahankan persistensi pada jaringan korban.

Saat mengomentari perihal laporan sejenis dari firma keamanan siber Mandiant, Juni, dikutip dari AP, China menuding AS juga melakukan operasi mata-mata siber terhadap dia dengan cara meretas komputer universitas juga perusahaan.

Pada 2018, Kementerian Luar Negeri China sempat membantah “fitnah” dari AS serta sekutu lainnya soal spionase ekonomi, kemudian mendesak Washington untuk menarik tuduhannya.

“Kami mendesak pihak AS untuk segera memperbaiki tindakannya yang tersebut mana salah juga menghentikan fitnahnya terkait keamanan internet,” kata pernyataan itu, dikutip dari Reuters.

“Kritik AS yang mana dimaksud tiada beralasan terhadap China atas nama apa yang mana mana disebut ‘pencurian dunia maya’ adalah bentuk menyalahkan orang lain padahal diri sendiri yang tersebut dimaksud harus disalahkan, kemudian merupakan pembohongan diri sendiri.”

s

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *